ADAB DALAM PERJALANAN
﴿ آداب السفر ﴾
ADAB DALAM PERJALANAN
·
Perjalanan ialah bahagian dari azab. Diriwayatkan
dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:
اَلسَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ يَمْنَعُ أَحَدُكُمْ
طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ، فَإِذاَ قَضَى ُنهْمَتَهُ فَلْيَعْجَلْ إِلَى
أَهْلِهِ
"Perjalanan
itu ialah bahagian dari azab yang menghalangi salah seorang di antara kalian
dari makan, minum dan tidur. Jika telah menunaikan hajatnya, segeralah ia
kembali kepada keluarganya”. [1]
·
Disyariatkan untuk mengucapkan do'a selamat tinggal
dengan kalimat yang diajarkan Rasulullah SAW, iaitu kalimat:
أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِيْنَكَ وَأَمَانَتَكَ
وَخَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ
“Aku titipkan kepada Allah agamamu, amanatmu dan akhir amalmu”.
Kemudian orang yang akan
bepergian menjawab:
أَسْتَوْدِعُكُمُ اللهَ الَّذِي لاَ تَضِيْعُ
وَدَائِعُهُ
·
Mendahulukan solat istikharah ketika ragu
mengadakan perjalanan.
·
Menulis wasiat:
مَا حَـقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْئٌ يُوْصيِ فِيْهِ
يَبِيْتُ لَيْلَةً أَوْ َلَيْلَتَيْنِ إِلاَّ وَوَصِيَّتَهُ مَكْتُوْبَةٌ عِنْدَهُ
“Seorang
muslim yang mempunyai wasiat tidaklah tidur semalam atau dua malam kecuali dia
telah menyiapkan wasiatnya tertulis disisinya”. [3]
·
Bertaubat kepada Allah SWT dari segala maksiat;
mengembalikan amanat kepada yang berhak, membayar hutang atau memberi wasiat
kepada seseorang untuk membayarkannya.
·
Minta izin kedua orang tua.
·
Menitipkan keluargamu kepada orang yang dipercaya.
·
Meninggalkan bekal yang cukup untuk keluarga.
·
Disunahkan meminta wasiat dan doa ketika hendak
bepergian. Telah datang seseorang kehadapan Rasulullah SAW lalu berkata:
“Wahai Rasulullah!, Sesungguhnya aku akan bepergian, bekalilah aku". Rasulullah SAW
bersabda:
زَوَّدَكَ اللهُ التَّـقْوَى، قَالَ: زِدْنِي، قَالَ:
وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، قَالَ: زِدْنِي، قَالَ: وَيَسَّرَ لَك َالْخَيْرَ حَيْثُمَا
كُنْتَ - وَقَالَ لَهُ
رَجُلٌ:إِنِّي أُرِيْدُ السَّفَرَ فَقَالَ: أُوْصِيْكَ بِتَقْوَى اللهِ
وَالتَّكْبِيْرِ عَلَى كُلِّ شَرَفٍ، فَلَمَّا وَلَّى قَالَ: اَللَّهُمَّ اَزْوِ
لَهُ اْلأَرْضَ وَهَوِّنْ عَلَيْهِ السَّفَرَ
“Semoga
Allah membekalimu dengan taqwa. Orang itu berkata: "Bekalilah aku".
Rasulullah bersabda: "Semoga Allah mengampuni dosamu". Orang itu
berkata lagi: "Bekalilah aku". Rasulullah SAW bersabda: "Semoga Allah SWT memudahkanmu kepada
kebaikan dimanapun kamu berada". Seorang lelaki lain berkata kepada Rasulullah
SAW : "Sesungguhnya aku
akan bepergian, lalu Rasulullah SAW
bersabda: "Aku berwasiat kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah dan betakbir
pada setiap tanah yang menanjak. Ketika orang itu berpaling, Rasulullah
bersabda: "Ya Allah, lipatkanlah bumi baginya, dan mudahkanlah
perjalanannya". [4]
·
Seorang muslim hendaklah mengingatkan saudaranya
untuk berdoa ketika bepergian. Umar radhiallahu anhu meminta izin kepada Nabi
untuk melakukan umrah, maka Rasulullah SAW mengizinkannya seraya
bersabda:
لاَ َتـنْسَنَا يَا أُخَيَّ مِنْ دُعَاِئكَ
·
Tidak menyukai bepergian sendirian sebagaimana
sabda Nabi:
لَوْ َيعْلَمُ النَّاسَ
مَا فَي اْلوَحْدَةِ مَا أَعْلَمُ مَا سَارَرَاِكبٌ بِلَيْلٍ وَحْدَهُ
“Seandainya
manusia tahu apa yang terjadi dalam kesendirian seperti apa yang aku ketahui,
niscaya tidak akan pernah seseorang berkendaraan pada malam hari dalam keadaan
sendiri". [7]
Diriwayatkan dari
Abdullah bin Amar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:
اَلرَّاكِبُ شَيْطَانٌ،
وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ، وَالثَّلاَثَةٌ رُكَبٌ
“Seorang yang berkendaraan itu satu syaitan, dua orang berkendaraan ialah
dua syaitan. Adapun tiga orang yang berkendaraan, maka mereka para pengendara.”
[8]
Al Albani Rahimahullah
berkata: "Mudah-mudahan yang dimaksud hadits ini ialah bepergian ke padang
pasir dan tempat-tempat luas yang jarang terlihat manusia padanya, maka tidak
termasuk bepergian di jalan-jalan yang rata dan banyak alat pengangkutan di
zaman sekarang ini. Wallahu A’lam.
·
Disunahkan mengangkat pemimpin dalam perjalanan
jika lebih dari tiga orang, berdasarkan sabda Rasulullah SAW:
إِذَا خَـرَجَ ثَلاَثَةٌ فَي سَفَرٍ فَلْيُأَمِّرُوْا
أَحـَدَهُمْ
·
Jadilah orang yang baik hati, baik akhlak dan
mempunyai wajah berseri.
·
Dilarang bepergian dengan membawa anjing dan
lonceng, berdasarkan sabda Rasulullah SAW:
لاَ تَصْحَبُ
اْلمَلاَئِكَةُ رِفْقَةٌ فِيْهَا كَلْبٌ وَلاَ جَرَسٌ
·
Perempuan dilarang bepergian tanpa mahram.
·
Disunahkan bepergian pada hari kamis: ”Jika
Rasulullah SAW hendak bepergian, maka jarang sekali keluar kecuali pada
hari kamis”. [11] Dan dilarang bepergian
setelah tergelincir matahari pada hari jumat (setelah azan).
·
Disunahkan bagi yang bepergian ketika larut malam
untuk mengucapkan:
سَمـِعَ
سَامِـعٌ بِحَمـْدِ اللهِ وَحُسـْنَ بَلاَئِهِ عَلَيْنَا، رَبَّنَا صَاحَبنَا
وَأَفَضِلْ عَلَيْنَا، عَاِئذًا بِاللهِ مِنَ النَّارِ
“Orang
yang mempunyai pendengaran mendengar pujian kepada Allah dan kebaikan cobaan
-Nya kepada kami. Ya Tuhan kami ! Sertailah kami, dan curahkanlah kami, dan
kami berlindung kepadaMu Ya Allah dari api neraka". [12]
·
Membaca do'a safar, iaitu do'a yang diajarkan
Rasulullah SAW, diantaranya jika beliau duduk di atas untanya untuk
bepergian, beliau bertakbir tiga kali lalu berkata:
سُبْحَانَ
الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هذَا وَمَا كُنَّا
لَهُ مُقْرِنِيْنَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ، اَللّهُمَّ إِناَّ
نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ اْلعَمَلِ مَا تَرْضَي ، اَللّهُمَّ
هَوِّنْ عَلَيْنَا َسفَرَنَا هذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اَلّلهُّ أَنْتَ
الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيْفَةُ فِي اْلأَهْلِ، اَللّهُمَّ إِنَّا
نَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبِةِ الْمَنْظَرِ وَسُوْءِ
اْلُمْنقَلَبِ فِي اْلمَالِ وَاْلأَهْلِ وَالْوَلَدِ، وَإِذَا رَجَعَ قَالَهُنَّ
وَزَادَ فِيْهِنَّ - آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ
“Maha
Suci Allah yang telah menundukkan ini kepada kami yang sebelumnya kami tidak boleh
menguasainya dan sesungguhnya kepada Allahlah kami dikembalikan. Ya Allah ..!. Dalam perjalanan ini kami memohon kepada-Mu kebaikan dan
taqwa dan amal yang Engkau ridhai. Ya Allah..!. Mudahkanlah perjalanan ini bagi
kami dan dekatkanlah jarak yang jauh. Ya Allah ..!. Engkau Teman dalam
perjalanan dan yang menjadi pengganti dalam keluarga. Ya Allah..!. Kami berlindung
kepada-Mu dari kesusahan dalam perjalanan, pemandangan yang menyedihkan dan
perubahan yang tidak diinginkan pada harta, keluarga dan anak”.
Ketika kembali pulang
hendaklah mengucapkan kalimat ini dan ditambah:
آيِبُوْنَ
تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ
·
Disunnahkan ketika masuk suatu kampung untuk
mengucapkan:
اَلّلهُمَّ
رَبَّ السَّماَوَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ، وَرَبَّ اْلأَرَضِيْنَ السَّبْعَ
وَمَا أَقْلَلْنَ، وَرَبَّ الشَّياَطِيْنَ وَمَا أَضْلَلْنَ، وَرَبَّ الرِّيَاحِ
َوَمَا ذَرَيْنَ أَسْأَلُكَ خَيْرَ هذِهَ اْلقَرْيَةِ وَخَيْرَ أَهْلِهَا،
وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هذِهِ الْقَرْيَةِ وَشَّرِّ أَهْلِهَا وَشَرِّ
مَاِفيْهَا
“Ya Allah, Rabb tujuh langit dengan apa yang ada di dalamnya,
dan Rabb tujuh bumi beserta seluruh isinya, Rabb syaitan dan apa yang mereka
sesatkan, Rabb segala angin dan segala yang diterbangkannya, aku memohon
kepada-Mu kebaikan negeri ini dan kebaikan penduduknya serta yang ada di
dalamanya, dan aku memohon perlindungan dari keburukan negeri ini dan kejahatan
penduduknya serta segala yang ada di dalamnya." [14]
·
Do'a seorang musafir termasuk salah satu do'a yang
mustajab sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA bahwa Nabi
bersabda:
ثَلاَثُ
دَعْوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ – وَذَكَرَ مِنْهَا- دَعْوَةُ
المُسَاِفِر
“Ada
tiga doa yang tidak diragukan adalah do'a yang mustajab diantaranya disebutkan–
do'anya seorang musafir.” [15]
·
Termasuk sunnah, seorang yang musafir melakukan solat
sunah di atas kendaraannya. Diriwayatkan dari ibnu Umar radhiallahu anhu, dia berkata:
كَانَ
رَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي السَّفَرِ عَلىَ
رَاحِلتَهِ ِحَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ يُوْمِئُ إِيْمَاءً صَلاَةَ اللَّيْلِ إِلاَّ
الْفَرَاِئضَ وَيُوْتِرَ عَليَ رَاحْلَتِهِ
“Rasulullah
SAW melaksanakan solat lail di
atas kendaraannya, di mana beliau menghadap ke mana saja arah kendaraannya
menghadap, beliau solat dengan isyarat, kecuali solat fardhu dan melaksanakan solat
witir di atas kendaraannya”.[16]
مَنْ
نَزَلَ مَنْزِلاً ثُمَ قَالَ: أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ
مَا خَلَقَ، لَمْ يَضُرْهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ
"Barang siapa yang berhenti di sebuah tempat lalu mengucapkan: "Aku
berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang
diciptakan, maka tidak ada yang membahayakannya sampai ia pergi meninggalkan
tempat itu".
·
Disunahkan berkumpul ketika berhenti dan makan.
ketika para shahabat berhenti di suatu tempat mereka berkelompok-kelompok dan
bercerai berai, maka Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ
تَفَرُّقَكُمْ فِي هذِهِ الشِّعَابِ وَاْلاَوْدِيَةِ إِنَّمَا ذلِكُمْ مِنَ
الشَّيْطَانِ فَلَمْ يَنْزِلُوْا بَعْدَ ذلِكَ مَنْزِلاً ِإلاَّ انْضَمَّ
بَعْضُهُمْ ِإليَ بَعْضٍ حَتَّي يُقَالَ لَوْ بَسِطَ عَلَيْهِمْ ثَوْبُ
لَعَمَّهُمْ
"Sesungguhnya
bercerai-berainya kalian dalam kelompok-kelompok dan lembah-lembah ini adalah
dari syaitan. Setelah kejadian ini, tidaklah merka berhenti di suatu tempat
kecuali sebahagian berkumpul dengan yang lainnya sampai dikatakan seandainya
dibentangkan kain untuk mereka niscaya pasti akan menjangkau mereka". [17]
·
Disunahkan 'Tanahud' berkongsi membeli makanan untuk
dimakan bersama. Kata النهد berarti setiap anggota dalam perjalanan mengeluarkan
perbekalannya yang diserahkan kepada seseorang untuk dimakan bersama. [18]
·
Memilih tempat yang sesuai untuk tidur sehingga
tidak mengganggu serangga bumi dan binatang. Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا
سَافَرَتْمُ فِي الْخَصْبِ فَأَعْطُوْا اْلإِبِلَ حَظَّهَا مِنَ اْلأَرْضِ،
وَإِذَا سَافَرْتُمْ فِي السَّنَةِ فَبَادِرُوْا بِهَا نِقْيَهَا، وَإَذَا
عَرَسْتُمْ فَاجْتَنِبُوا الطَّرِيْقَ فَإِنَّهَا طُرقَ الدَّوَابِّ وَمَأْوَى
اْلهَوَامِّ بِالَّليْلِ
"Jika kalian bepergian pada
musim subur maka berilah hak unta dari bumi, dan jika bepergian pada musim
gersang maka segerakanlah berjalan (agar dia tidak binasa), dan jika ingin
tidur jauhilah tidur di jalan kerana ia adalah jalan binatang dan tempat tinggalnya
serangga di waktu malam". [19]
·
Seorang musafir hendaklah semampunya menggunakan
sarana apa saja agar dia boleh bangun untuk solat subuh sebagaimana hadits Nabi
:
..مَنْ
َيكْلأَنَا اللَّيَلَةَ لاَ نَرْقُدُ عَنْ صَلاَةِ الصُّبْحَ قَالَ: بِلاَلٌ أَنَا...
"Siapakah
yang yang mau menjaga kita pada malam ini agar kita tidak tertidur dari
melaksanakan solat subuh?" Bilal menjawab: "Saya…" [20]
Rasulullah SAW
jika tidur di perjalanan, beliau berbaring ke sebelah kanannya. Dan jika tidur
sebelum subuh, beliau menegakkan sikunya dan meletakkan kepala di atas telapak
tangannya. [21]
·
Seorang musafir disunahkan segera kembali kepada
keluarganya setelah memenuhi hajatnya dan tidak menunda-nunda. Diriwayatkan
dari Abu Hurairah RA dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda:
اَلسَّفَرُ
ِقطْعَةٌ مِنَ اْلعَذَابِ: يَمْنَعُ أَحَدُكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ. فَإِذَا
قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيَعْجَلْ إلِىَ أَهْلِهِ
“Safar
itu adalah bahagian dari azab yang menghalangi musafir dari makan dan minum. Jika dia telah memenuhi hajatnya, segeralah kembali kepada
keluarganya". [22]
·
Dimakruhkan seorang musafir mendatangi keluarganya
di waktu malam kerana Rasulullah SAW melarang mengetuk pintu keluarganya
pada malam hari.[23] [24]
·
Diantara petunjuk Nabi ialah bahwa Rasulullah SAW
ketika tiba dari bepergian, hal yang pertama kali dilakukan ialah bersegera
melakukan solat dua rakaat di masjid.[25]
·
Jika engkau dalam perjalanan bersama teman
seperjalanan
hendaklah saling menolong, saling mengasihi, saling berbagi keperluan dan
pekerjaan. Meninggalkan sifat sombong dan bergantung kepada yang lain.
Rasulullah SAW
berada di belakang (rombongan) jika sedang dalam berjalan, membonceng yang
lemah dan mendo'akannya. [26]
·
Pastikan barang-barang anda
lengkap. Rasulullah SAW jika bepergian, beliau membawa lima hal; cermin, botol tempat celak,
alat sulam, siwak dan sisir”. [27]
·
Hendaklah bepergian di
malam hari kerana bumi melipat di waktu malam hari, sebagaimana disunahkan
bepergian di pagi hari kerana sabda Rasulullah
اَلَّلهُمَّ بَارِكْ ِلأُمَّتِي فِي
بُكُوْرِهَا
“Ya
Allah.. berkahilah umatku di pagi harinya”.
Dan awal malam dengan sabdanya:
عِلِيْكُمْ بِالْدُّلْجَةِ فَإِنَّ اْلأَرْضَ
تُطْوَى بِالَّليْلِ
·
Membawakan hadiah untuk
keluarga merupakan hal yang mendatangkan kebahagiaan.
·
Rasulullah SAW
jika datang dari bepergian, beliau menemui anak kecil dari keluarganya. Adapun para sahabat, jika mereka bertemu maka
mereka saling bersalaman dan berpelukan jika baru datang dari bepergian. [30]
·
Disunahkan bagi orang yang
baru datang dari bepergian untuk berpelukan, mengucapkan salam, berdiri,
menjemput dan menyediakan naqi'ah.[31] Ketika Zaid RA mendatangi Rasulullah SAW,
maka tatkala Zaid mengetuk pintu, Rasulullah SAW berdiri menarik bajunya lalu menciumnya. Begitu
juga ketika menyambut Ja’far rdhiallahu anhu ketika kembali dari Habsyah.
[6] Berdasarkan Hadits Ibnu Umar t,
dia berkata:" Rasulullah SAW
dan pasukannya jika menaiki lembah, mereka bertakbir dan jika turun, mereka
bertasbih". HR. Abu Dawud (2599), dishahihkan oleh Al Albani.
[19] HR. Muslim (1926). الخصب lawan kata gersang. السنة berarti gersang. Dikatakan أخذته السنة berarti telah datang musim kering dan peceklik. (Al Nihayah Fi
Gharib Al Hadits Ibnu Al Atsir Juz 2).
[24] Illat sebuah larangan ialah sampai terurainya benang
kusut. Jika menelpon atau memberi kabar kepada keluarga maka tidak dilarang kerana
larangan diberi illat oleh nash hadits. Maka larangan akan hilang dengan hilangnya
illat.
[28] الدُلجة ialah berjalan di malam hari.
Dikatakan أَدلَجَ dengan takhfif iaitu berjalan di
awal malam dan ادَّلج dengan tasydid iaitu berjalan di
akhir malam. Ada yang menggunakan kata الادلاج dengan arti seluruh malam, sepertinya makna inilah yang
dimaksud dalam hadits ini kerana diiringi dengan kalimat فإن الأرض تطوي بالليل , dan tidak
dibedakan antara diawal atau diakhir malam. (Al Nihayah Fi Gharib Al Hadits
Libni Al Atsir Juz 2/120).
[30] Berkata Al Haitsami dalam Al
Mujama' (8/36), HR. Thabrani dalam Al Ausath. Perawinya shahih dan disetujui
oleh Al Abani (4064).
Tiada ulasan:
Catat Ulasan