Ahad, 25 Ogos 2019

Bila anak bertanya maka jawablah

Bila anak bertanya maka jawablah

ini merupakan keistimewaan anak pada waktu awal nereja membesar adalah banyak bertanya dengan pertanyaan yang memenatkan. Bagi setiap ayah dan ibu jangan mengherdik putera-puteri mereka kerananya. Keistimewaan ini memiliki banyak manfaat:
1.       Membuka wawasan akal anak.
2.       Anak akan lebih dekat kepada orang tua.
3.       Mengetahui kecenderungan anak dari pertanyaan-
pertanyaan yang diajukannya

Ketika anak melakukan hal yang salah.


Ketika anak melakukan hal yang salah.


Pada waktu awal, anak sulit membezakan mana yang benar dan yang salah, kerana sedikitnya pengetahuan dan ilmu mereka. Hal ini menuntut kita untuk mengarahkan mereka ketika salah, membenarkannya serta melindungi mereka dari keburukan, seperti ghozwul fikri (Invasi pemikiran) dan ghozwul tsaqofi (invasi budaya), dengan menyediakan alternatif yang sesuai agar tetap dapat berkhidmat terhadap agama ini meskipun berada di bawah bayang-bayang sengit dari musuh-musuh agama ini di seluruh belahan bumi.

Catatan yang mesti diperhatikan ketika menasihati kesalahan:
1.       Hendaknya arahan mengandung kasih sayang terhadap anak yang melakukan kesalahan.
2.       Menegur kesalahan tanpa masuk kepada keperibadian anak, hingga hasilnya tidak menjadi sebaliknya.
3.       Memuji terlebih dahulu sebelum mencela, hal itu akan membuat perkataan anda lebih didengar.

Biarkan anakmu bermain

Biarkan anakmu bermain, Tetapi Temani Dengan Tema-Tema Agama


Dikeranakan bermain dan banyak bergerak adalah karakteristik anak, hendaknya permainan diarahkan kepada sesuatu yang akan menambah kemaslahatan untuk mengamalkan agama ini.
Banyak gerak dan tidak diamnya anak bukanlah aib, kesalahan atau tingkah tidak terpuji. 
Justeru memiliki banyak manfaat. Di diantaranya menambah kesihatan, kecerdasan dan keahlian anak sejalan dengan pertumbuhannya.
Anak yang tidak bergerak, kerana kejiwaan atau paksaan orang tua, akan berakibat pada ketidakstabilan anak, takut, rendah diri atau kesihatan yang lemah, sebagai dampak dari perangai tersebut.

UKIR ANAKMU DENGAN ILMU


UKIR ANAKMU DENGAN ILMU

Belajar Sejak Kecil


Anak-anak pada fasa pertama memiliki karakteristik ingatan yang kuat. Sudah semestinya kita arahkan untuk menuntut ilmu dan mengajari mereka perkara-perkara agama. Seperti menghafal al-Quran al-Karim dan sunah nabi yang suci serta menanamkan aqidah yang benar.
Umat ini amat memerlukan kepada ulama yang kuat dan dai-dai yang berpandangan luas dengan al-Quran dan sunah. Hal ini tidak akan terwujud selain dengan menuntut ilmu. Jangan katakan hal ini sulit atau mustahil.
Ibnu Muflih berkata18F[1]:
"Ilmu yang didapat sejak kecil lebih kuat. Sudah seharusnya memperhatikan pelajar muda, terlebih lagi mereka yang memiliki kecerdasan, penalaran dan semangat menuntut ilmu. Janganlah menjadikan usia dini, kefakiran dan kelemahan mereka sebagai penghalang dalam memperhatikan dan fokus pada mereka.


[1] Al-Âdab as-Syar’iah I/244.

KESOLEHAN IBU DAN AYAH


KESOLEHAN IBU DAN AYAH


Pertama dan yang paling penting adalah Kesolehan orang tua
Dengan kesolehan keduanya, anak-anak akan menjadi baik. Anak-anak tumbuh sesuai yang dibiasakan orang tuanya.

Penyebutan ibu di dahulukan dari pada ayah kerana beban terbesar dalam pendidikan anak berada di pundak ibu, mengingat kebersamaannya yang lebih lama dengan anak-anak, berbeza dengan ayah yang sibuk mencari rezeki. Mendidik anak-anak agar tumbuh mencintai dan mengamalkan agama ini. Generasi yang demikian haruslah tumbuh dari tanah yang baik dan subur, sebagaimana yang dikatakan oleh as-Syaukhi:
Ibu adalah sekolah jika engkau mempersiapkannya
Dengan mempersiapkannya bererti telah menyiapkan generasi yang harum namanya

Ibu adalah sekolah pertama yang menelurkan ulama, dai dan mujahid-mujahid pemberani. Kerananya ibu (isteri) solehah amatlah penting dalam membangun masyarakat dan melahirkan generasi yang diberkahi. Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- pun mendorong dan memotivasi hal ini dengan sabdanya:
 Wanita dinikahi kerana empat hal; kerana hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Pilihlah agamanya maka engkau tidak akan menyesal.” 0F[1]

Benar...
Beruntunglah engkau yang memilih isteri solehah lagi berilmu, sehingga melahirkan untuk umat ini ulama.
Beruntunglah engkau yang memilih isteri mujahidah (pejuang), sehingga melahirkan untuk umat ini para kesatria.
Beruntunglah engkau yang memilih isteri pendakwah, sehingga melahirkan untuk umat ini para juru dakwah.
Beruntunglah engkau yang memilih isteri yang ahli ibadah, sehingga melahirkan untuk umat ini para ahli ibadah.
Beruntunglah engkau...

Kerananya para ibu memiliki peranan besar dan agung dalam membangun keperibadian anak dan dalam mendidik mereka agar mengamalkan agama ini. Demikian juga para ayah, yang memiliki peranan besar yang tidak lebih kecil dari peranan ibu.
Para orang tua hendaknya memperhatikan perkara penting yang memiliki pengaruh besar pada keperibadian anak iaitu interaksi diantaraa orang tua. Interaksi diantara kedua orang tua adalah pendidikan harian yang disaksikan langsung oleh anak-anak di depan mata mereka. 
Yang Semestinya dilakukan orang tua:
1.       Hendaknya keduanya saling menghargai, terkhusus jika berada di hadapan anak-anak.
2.       Tidak mempertontonkan perselisihan keduanya di hadapan anak-anak.
3. Mengikuti petunjuk Nabi dalam hak-hak pergaulan serta saling komitmen di diantara ayah dan ibu dengan hak-hak masing-masing.

[1] Sahih al-Bukhari no.5090, Kitab: Nikah, Bab: al-Akhiffa fi ad-Diin.

ADAB DALAM PERJALANAN ﴿ آداب السفر ﴾



ADAB DALAM PERJALANAN
﴿ آداب السفر ﴾

ADAB DALAM PERJALANAN
·         Perjalanan ialah bahagian dari azab. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

اَلسَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ يَمْنَعُ أَحَدُكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ، فَإِذاَ قَضَى ُنهْمَتَهُ فَلْيَعْجَلْ إِلَى أَهْلِهِ
      "Perjalanan itu ialah bahagian dari azab yang menghalangi salah seorang di antara kalian dari makan, minum dan tidur. Jika telah menunaikan hajatnya, segeralah ia kembali kepada keluarganya”. [1]
·         Disyariatkan untuk mengucapkan do'a selamat tinggal dengan kalimat yang diajarkan Rasulullah SAW, iaitu kalimat:

       أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِيْنَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ
“Aku titipkan kepada Allah agamamu, amanatmu dan akhir amalmu”.
Kemudian orang yang akan bepergian menjawab:
أَسْتَوْدِعُكُمُ اللهَ الَّذِي لاَ تَضِيْعُ وَدَائِعُهُ
      “Aku titipkan kalian kepada Allah yang tidak menyia-nyiakan titipan Nya”. [2]
·         Mendahulukan solat istikharah ketika ragu mengadakan perjalanan.
·         Menulis wasiat:

مَا حَـقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْئٌ يُوْصيِ فِيْهِ يَبِيْتُ لَيْلَةً أَوْ َلَيْلَتَيْنِ إِلاَّ وَوَصِيَّتَهُ مَكْتُوْبَةٌ عِنْدَهُ
      “Seorang muslim yang mempunyai wasiat tidaklah tidur semalam atau dua malam kecuali dia telah menyiapkan wasiatnya tertulis disisinya”. [3]
·         Bertaubat kepada Allah SWT dari segala maksiat; mengembalikan amanat kepada yang berhak, membayar hutang atau memberi wasiat kepada seseorang untuk membayarkannya.
·         Minta izin kedua orang tua.
·         Menitipkan keluargamu kepada orang yang dipercaya.
·         Meninggalkan bekal yang cukup untuk keluarga.
·         Disunahkan meminta wasiat dan doa ketika hendak bepergian. Telah datang seseorang kehadapan Rasulullah SAW lalu berkata: “Wahai Rasulullah!, Sesungguhnya aku akan bepergian, bekalilah aku". Rasulullah SAW bersabda:

زَوَّدَكَ اللهُ التَّـقْوَى، قَالَ: زِدْنِي، قَالَ: وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، قَالَ: زِدْنِي، قَالَ: وَيَسَّرَ لَك َالْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ -  وَقَالَ لَهُ رَجُلٌ:إِنِّي أُرِيْدُ السَّفَرَ فَقَالَ: أُوْصِيْكَ بِتَقْوَى اللهِ وَالتَّكْبِيْرِ عَلَى كُلِّ شَرَفٍ، فَلَمَّا وَلَّى قَالَ: اَللَّهُمَّ اَزْوِ لَهُ اْلأَرْضَ وَهَوِّنْ عَلَيْهِ السَّفَرَ
      “Semoga Allah membekalimu dengan taqwa. Orang itu berkata: "Bekalilah aku". Rasulullah bersabda: "Semoga Allah mengampuni dosamu". Orang itu berkata lagi: "Bekalilah aku". Rasulullah SAW bersabda: "Semoga Allah SWT memudahkanmu kepada kebaikan dimanapun kamu berada". Seorang lelaki lain berkata kepada Rasulullah SAW : "Sesungguhnya aku akan bepergian, lalu Rasulullah SAW bersabda: "Aku berwasiat kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah dan betakbir pada setiap tanah yang menanjak. Ketika orang itu berpaling, Rasulullah bersabda: "Ya Allah, lipatkanlah bumi baginya, dan mudahkanlah perjalanannya". [4]
·         Seorang muslim hendaklah mengingatkan saudaranya untuk berdoa ketika bepergian. Umar radhiallahu anhu meminta izin kepada Nabi untuk melakukan umrah, maka Rasulullah SAW mengizinkannya seraya bersabda: 
   لاَ َتـنْسَنَا يَا أُخَيَّ مِنْ دُعَاِئكَ
“Saudaraku! Janganlah lupa mendoakan kami”. [5]
·         Takbir ketika jalan menaik dan tasbih ketika  jalan menurun. [6]
·         Tidak menyukai bepergian sendirian sebagaimana sabda Nabi:

  لَوْ َيعْلَمُ النَّاسَ مَا فَي اْلوَحْدَةِ مَا أَعْلَمُ مَا سَارَرَاِكبٌ بِلَيْلٍ وَحْدَهُ
      “Seandainya manusia tahu apa yang terjadi dalam kesendirian seperti apa yang aku ketahui, niscaya tidak akan pernah seseorang berkendaraan pada malam hari dalam keadaan sendiri". [7]
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

   اَلرَّاكِبُ شَيْطَانٌ، وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ، وَالثَّلاَثَةٌ رُكَبٌ                
      “Seorang yang berkendaraan itu satu syaitan, dua orang berkendaraan ialah dua syaitan. Adapun tiga orang yang berkendaraan, maka mereka para pengendara.” [8]
Al Albani Rahimahullah berkata: "Mudah-mudahan yang dimaksud hadits ini ialah bepergian ke padang pasir dan tempat-tempat luas yang jarang terlihat manusia padanya, maka tidak termasuk bepergian di jalan-jalan yang rata dan banyak alat pengangkutan di zaman sekarang ini. Wallahu A’lam.
·         Disunahkan mengangkat pemimpin dalam perjalanan jika lebih dari tiga orang, berdasarkan sabda Rasulullah SAW:   
إِذَا خَـرَجَ ثَلاَثَةٌ فَي سَفَرٍ فَلْيُأَمِّرُوْا أَحـَدَهُمْ
      “Jika tiga orang keluar untuk bepergian, hendaklah menjadikan salah seorang sebagai pemimpin”. [9]
·         Jadilah orang yang baik hati, baik akhlak dan mempunyai wajah berseri.
·         Dilarang bepergian dengan membawa anjing dan lonceng, berdasarkan sabda Rasulullah SAW:
                  لاَ تَصْحَبُ اْلمَلاَئِكَةُ رِفْقَةٌ فِيْهَا كَلْبٌ وَلاَ جَرَسٌ
      “Malaikat tidak akan menemani orang yang membawa anjing dan loceng”. [10]
·         Perempuan dilarang bepergian tanpa mahram.
·         Disunahkan bepergian pada hari kamis: ”Jika Rasulullah SAW hendak bepergian, maka jarang sekali keluar kecuali pada hari kamis”. [11] Dan dilarang bepergian setelah tergelincir matahari pada hari jumat (setelah azan).
·         Disunahkan bagi yang bepergian ketika larut malam untuk mengucapkan:

سَمـِعَ سَامِـعٌ بِحَمـْدِ اللهِ وَحُسـْنَ بَلاَئِهِ عَلَيْنَا، رَبَّنَا صَاحَبنَا وَأَفَضِلْ عَلَيْنَا، عَاِئذًا بِاللهِ مِنَ النَّارِ
      “Orang yang mempunyai pendengaran mendengar pujian kepada Allah dan kebaikan cobaan -Nya kepada kami. Ya Tuhan kami ! Sertailah kami, dan curahkanlah kami, dan kami berlindung kepadaMu Ya Allah dari api neraka". [12]
·         Membaca do'a safar, iaitu do'a yang diajarkan Rasulullah SAW, diantaranya jika beliau duduk di atas untanya untuk bepergian, beliau bertakbir tiga kali lalu berkata:

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا  هذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ، اَللّهُمَّ إِناَّ نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى  وَمِنَ اْلعَمَلِ مَا تَرْضَي ، اَللّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا َسفَرَنَا هذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ  اَلّلهُّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيْفَةُ فِي اْلأَهْلِ، اَللّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبِةِ الْمَنْظَرِ وَسُوْءِ اْلُمْنقَلَبِ فِي اْلمَالِ وَاْلأَهْلِ وَالْوَلَدِ، وَإِذَا رَجَعَ قَالَهُنَّ وَزَادَ فِيْهِنَّ - آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ
      “Maha Suci Allah yang telah menundukkan ini kepada kami yang sebelumnya kami tidak boleh menguasainya dan sesungguhnya kepada Allahlah kami dikembalikan. Ya Allah ..!. Dalam perjalanan ini kami memohon kepada-Mu kebaikan dan taqwa dan amal yang Engkau ridhai. Ya Allah..!. Mudahkanlah perjalanan ini bagi kami dan dekatkanlah jarak yang jauh. Ya Allah ..!. Engkau Teman dalam perjalanan dan yang menjadi pengganti dalam keluarga. Ya Allah..!. Kami berlindung kepada-Mu dari kesusahan dalam perjalanan, pemandangan yang menyedihkan dan perubahan yang tidak diinginkan pada harta, keluarga dan anak”.
Ketika kembali pulang hendaklah mengucapkan kalimat ini dan ditambah:

آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ
“Kami kembali, kami bertaubat dan kami beribadah, dan hanya kepada Rabb kami, kami  memuji." [13]
·         Disunnahkan ketika masuk suatu kampung untuk mengucapkan:

اَلّلهُمَّ رَبَّ السَّماَوَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ، وَرَبَّ اْلأَرَضِيْنَ السَّبْعَ وَمَا أَقْلَلْنَ، وَرَبَّ الشَّياَطِيْنَ وَمَا أَضْلَلْنَ، وَرَبَّ الرِّيَاحِ َوَمَا ذَرَيْنَ أَسْأَلُكَ خَيْرَ هذِهَ اْلقَرْيَةِ وَخَيْرَ أَهْلِهَا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هذِهِ الْقَرْيَةِ وَشَّرِّ أَهْلِهَا وَشَرِّ مَاِفيْهَا
      “Ya Allah, Rabb tujuh langit dengan apa yang ada di dalamnya, dan Rabb tujuh bumi beserta seluruh isinya, Rabb syaitan dan apa yang mereka sesatkan, Rabb segala angin dan segala yang diterbangkannya, aku memohon kepada-Mu kebaikan negeri ini dan kebaikan penduduknya serta yang ada di dalamanya, dan aku memohon perlindungan dari keburukan negeri ini dan kejahatan penduduknya serta segala yang ada di dalamnya." [14]
·         Do'a seorang musafir termasuk salah satu do'a yang mustajab sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA bahwa Nabi bersabda:

   ثَلاَثُ دَعْوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ – وَذَكَرَ مِنْهَا- دَعْوَةُ المُسَاِفِر
      “Ada tiga doa yang tidak diragukan adalah do'a yang mustajab diantaranya disebutkan– do'anya seorang musafir.” [15]
·         Termasuk sunnah, seorang yang musafir melakukan solat sunah di atas kendaraannya. Diriwayatkan dari ibnu Umar radhiallahu anhu, dia berkata:

كَانَ رَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي السَّفَرِ عَلىَ رَاحِلتَهِ ِحَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ يُوْمِئُ إِيْمَاءً صَلاَةَ اللَّيْلِ إِلاَّ الْفَرَاِئضَ وَيُوْتِرَ عَليَ رَاحْلَتِهِ
      “Rasulullah SAW melaksanakan solat lail di atas kendaraannya, di mana beliau menghadap ke mana saja arah kendaraannya menghadap, beliau solat dengan isyarat, kecuali solat fardhu dan melaksanakan solat witir di atas kendaraannya”.[16] 

مَنْ نَزَلَ مَنْزِلاً ثُمَ قَالَ: أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، لَمْ يَضُرْهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ
      "Barang siapa yang berhenti di sebuah tempat lalu mengucapkan: "Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakan, maka tidak ada yang membahayakannya sampai ia pergi meninggalkan tempat itu".
·         Disunahkan berkumpul ketika berhenti dan makan. ketika para shahabat berhenti di suatu tempat mereka berkelompok-kelompok dan bercerai berai, maka Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ تَفَرُّقَكُمْ فِي هذِهِ الشِّعَابِ وَاْلاَوْدِيَةِ إِنَّمَا ذلِكُمْ مِنَ الشَّيْطَانِ فَلَمْ يَنْزِلُوْا بَعْدَ ذلِكَ مَنْزِلاً ِإلاَّ انْضَمَّ بَعْضُهُمْ ِإليَ بَعْضٍ حَتَّي يُقَالَ لَوْ بَسِطَ عَلَيْهِمْ ثَوْبُ لَعَمَّهُمْ
      "Sesungguhnya bercerai-berainya kalian dalam kelompok-kelompok dan lembah-lembah ini adalah dari syaitan. Setelah kejadian ini, tidaklah merka berhenti di suatu tempat kecuali sebahagian berkumpul dengan yang lainnya sampai dikatakan seandainya dibentangkan kain untuk mereka niscaya pasti akan menjangkau mereka". [17]
·         Disunahkan 'Tanahud' berkongsi membeli makanan untuk dimakan bersama. Kata النهد berarti setiap anggota dalam perjalanan mengeluarkan perbekalannya yang diserahkan kepada seseorang untuk dimakan bersama. [18]
·         Memilih tempat yang sesuai untuk tidur sehingga tidak mengganggu serangga bumi dan binatang. Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا سَافَرَتْمُ فِي الْخَصْبِ فَأَعْطُوْا اْلإِبِلَ حَظَّهَا مِنَ اْلأَرْضِ، وَإِذَا سَافَرْتُمْ فِي السَّنَةِ فَبَادِرُوْا بِهَا نِقْيَهَا، وَإَذَا عَرَسْتُمْ فَاجْتَنِبُوا الطَّرِيْقَ فَإِنَّهَا طُرقَ الدَّوَابِّ وَمَأْوَى اْلهَوَامِّ بِالَّليْلِ
      "Jika kalian bepergian pada musim subur maka berilah hak unta dari bumi, dan jika bepergian pada musim gersang maka segerakanlah berjalan (agar dia tidak binasa), dan jika ingin tidur jauhilah tidur di jalan kerana ia adalah jalan binatang dan tempat tinggalnya serangga di waktu malam". [19]
·         Seorang musafir hendaklah semampunya menggunakan sarana apa saja agar dia boleh bangun untuk solat subuh sebagaimana hadits Nabi : 

   ..مَنْ َيكْلأَنَا اللَّيَلَةَ لاَ نَرْقُدُ عَنْ صَلاَةِ الصُّبْحَ قَالَ: بِلاَلٌ أَنَا...
      "Siapakah yang yang mau menjaga kita pada malam ini agar kita tidak tertidur dari melaksanakan solat subuh?" Bilal menjawab: "Saya…" [20]
Rasulullah SAW jika tidur di perjalanan, beliau berbaring ke sebelah kanannya. Dan jika tidur sebelum subuh, beliau menegakkan sikunya dan meletakkan kepala di atas telapak tangannya. [21]
·         Seorang musafir disunahkan segera kembali kepada keluarganya setelah memenuhi hajatnya dan tidak menunda-nunda. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda:

اَلسَّفَرُ ِقطْعَةٌ مِنَ اْلعَذَابِ: يَمْنَعُ أَحَدُكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ. فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيَعْجَلْ إلِىَ أَهْلِهِ
      “Safar itu adalah bahagian dari azab yang menghalangi musafir dari makan dan minum. Jika dia telah memenuhi hajatnya, segeralah kembali kepada keluarganya". [22]
·         Dimakruhkan seorang musafir mendatangi keluarganya di waktu malam kerana Rasulullah SAW melarang mengetuk pintu keluarganya pada malam hari.[23] [24]
·         Diantara petunjuk Nabi ialah bahwa Rasulullah SAW ketika tiba dari bepergian, hal yang pertama kali dilakukan ialah bersegera melakukan solat dua rakaat di masjid.[25]   
·         Jika engkau dalam perjalanan bersama teman seperjalanan hendaklah saling menolong, saling mengasihi, saling berbagi keperluan dan pekerjaan. Meninggalkan sifat sombong dan bergantung kepada yang lain. Rasulullah SAW berada di belakang (rombongan) jika sedang dalam berjalan, membonceng yang lemah dan mendo'akannya. [26]
·         Pastikan barang-barang anda lengkap. Rasulullah SAW jika bepergian, beliau membawa lima hal; cermin, botol tempat celak, alat sulam, siwak dan sisir”. [27]
·         Hendaklah bepergian di malam hari kerana bumi melipat di waktu malam hari, sebagaimana disunahkan bepergian di pagi hari kerana sabda Rasulullah

  اَلَّلهُمَّ بَارِكْ ِلأُمَّتِي فِي بُكُوْرِهَا                       
      “Ya Allah.. berkahilah umatku di pagi harinya”.  Dan awal malam dengan sabdanya:
  عِلِيْكُمْ بِالْدُّلْجَةِ فَإِنَّ اْلأَرْضَ تُطْوَى بِالَّليْلِ
      Hendaklah kalian bepergian di waktu duljah [28] kerana pada malam hari bumi dilipat”.[29]                                                          
·         Membawakan hadiah untuk keluarga merupakan hal yang mendatangkan kebahagiaan.
·         Rasulullah SAW jika datang dari bepergian, beliau menemui anak kecil dari keluarganya.  Adapun para sahabat, jika mereka bertemu maka mereka saling bersalaman dan berpelukan jika baru datang dari bepergian. [30]
·         Disunahkan bagi orang yang baru datang dari bepergian untuk berpelukan, mengucapkan salam, berdiri, menjemput dan menyediakan naqi'ah.[31] Ketika Zaid RA mendatangi Rasulullah SAW, maka tatkala Zaid mengetuk pintu, Rasulullah SAW berdiri menarik bajunya lalu menciumnya. Begitu juga ketika menyambut Ja’far rdhiallahu anhu ketika kembali dari Habsyah.




[1] HR. Bukhari (1804) dan Muslim (1927).
[2] Al Silsilah Al Shahihah (14, 15, 16) dan Al Kalim Al Thayib (167/93).
[3] HR. Bukhari (2738).
[4] HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim dengan Sanad Hasan.
[5] HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan Isnad lemah.
[6] Berdasarkan Hadits Ibnu Umar t, dia berkata:" Rasulullah SAW dan pasukannya jika menaiki lembah, mereka bertakbir dan jika turun, mereka bertasbih". HR. Abu Dawud (2599), dishahihkan oleh Al Albani.
[7] HR. Bukhari (2998).
[8] Hadits Hasan, Al Silsilah Al Shahihah (62).
[9] HR. Abu Dawud (2608), dishahihkan Al Albani (500).
[10] HR. Muslim (2013).
[11] HR. Bukhari (2950).
[12] HR. Muslim (2718).
[13] HR. Muslim (1342).
[14] HR. Ibnu Sini dan Ibnu Hiban (2377). Hakim (100/2) Sanad Hasan.
[15] HR. Abu Daud (1536) dihasankan oleh Al Albani.
[16] HR. Bukahari (1000) dan Muslim (700).
[17] HR Abu Daud dengan Isnad Hasan (2628) dishahihkan Al Albani.
[18] Al Adab Al Syar'iyah (182/3).
[19] HR. Muslim (1926). الخصب lawan kata gersang. السنة berarti gersang. Dikatakan أخذته السنة berarti telah datang musim kering dan peceklik. (Al Nihayah Fi Gharib Al Hadits Ibnu Al Atsir Juz 2).
[20] HR. Al Nasa'I (624).
[21] HR. Muslim (683).
[22] HR. Bukhari (1804) dan Muslim (1927).
[23] Mutafaq Alaih.
[24] Illat sebuah larangan ialah sampai terurainya benang kusut. Jika menelpon atau memberi kabar kepada keluarga maka tidak dilarang kerana larangan diberi illat oleh nash hadits. Maka larangan akan hilang dengan hilangnya illat.
[25] HR. Bukhari (3088) dan Muslim (2769).
[26] HR. Abu Daud dengan Sanad Hasan.
[27] Dhaif. Al Silsilah Al Dha'ifah (4249).
[28]  الدُلجة ialah berjalan di malam hari. Dikatakan أَدلَجَ dengan takhfif iaitu berjalan di awal malam dan ادَّلج dengan tasydid iaitu berjalan di akhir malam. Ada yang menggunakan kata الادلاج dengan arti seluruh malam, sepertinya makna inilah yang dimaksud dalam hadits ini kerana diiringi dengan kalimat           فإن الأرض تطوي بالليل , dan tidak dibedakan antara diawal atau diakhir malam. (Al Nihayah Fi Gharib Al Hadits Libni Al Atsir Juz 2/120).                                                                           
[29] HR. Abu Daud dan dishahihkan Al Albani (4064).
[30] Berkata Al Haitsami dalam Al Mujama' (8/36), HR. Thabrani dalam Al Ausath. Perawinya shahih dan disetujui oleh Al Abani (4064).
[31] Naqi'ah ialah yang disediakan untuk yang baru datang dari bepergian.

  UMMAT MAKIN KELIRU M utakhir ini sering kali terjadi pertembungan antara agamawan di media sosial, masing-masing ingin menang dengan penda...